BRAGA

Menelusuri jalan Braga setiap sisi jalan dihiasi para penggelar pameran lukisan jalanan, café dan tempat belanja lainnya. Seolah dari dahulu hingga sekarang jalan tersebut tetap berkelas sepanjang masa. Tetapi pepatah mengatakan “Roma tidak di bangun dalam satu malam”, memang benar! jalan yang membentang antara Utara hingga Selatan pusat kota ini merupakan sebuah Landmark Bandung. Sejarah panjang dan berliku telah dilaluinya..Pada awal abad 19 Braga hanyalah sebuah jalan tanah, disekitarnya ditutupi hutan karet dan bukanlah jalan utama masyarakat. Semakin ramai dilalui ketika seorang tuan tanah Priangan Andries de Wilde membuat jalur distribuasi sebagai rute pengangkutan hasil bumi kopi dari Grote Postweg ke sebuah gudang kopi miliknya bernama Koffie Pakhuis, yang sekarang ditempati komplek balai kota Bandung. Maka jalan itupun di beri nama Karrenweg atau pedatiweg.Lalu semenjak Pieter Siithoff, Assisten Residen Bandung pada tanggal 18 Juni 1882 resmi mendirikan kelompok tonil dan musik Toneelvereeniging Braga, yang menjadikan lintasan inipun menjadi dikenal sebagai jalan Braga atau Bragaweg.Braga mengalami perkembangan pesat setelah H. W. Daendels menyelesai mega proyeknya, jalan raya pos (Grote postweg). dan pembangunan rel kereta api pada tahun 1884 yang menghubungkan Bandung dengan Batavia.Dengan segera, toko dan perumahan bangsa Eropa mulai di bangun. jalan Braga pun diperkeras menggunakan batu kali, pemasangan lentera minyak, dan Keramaian akhirnya menghampiri walau hanya bagian selatan saja, sedangkan ujung utara Braga belum di bangun dan masih dipenuhi pohon karet.clip_image004Walikota Bandung B. Coops menargetkan jalan Braga sebagai De meest Europeessche winkel straat van indie. Yang berarti komplek pertokoan yang paling terkemuka di Hindia-Belanda (Indonesia. red) beberapa orang turut andil memberikan usulan dan masukan, beberapa diantaranya dua orang teknisi dari Gemeente Bandung, Ir. J. P. Thysse dan Ir. E. H. de Roo mensyaratkan setiap bangunan di jalan Braga harus memiliki gaya arsitektur barat.Prof. Dr. Ir. C. P. Mom menyarankan setiap bangunan harus menggunakan art deco untuk menyesuaikan terhadap iklim tropis Hindia Belanda.Bangunan di sepanjang Braga merupakan rancangan para Arsitek seperti R. A. de Waal, Bennink, Brinkman, Gmelig Meyling, trio arsitek Bel-Kok & Piso, dua bersaudara Prof. Ir. Richard L. A. Schoemaker dan Prof.Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker dan A. F. Aalbers.Hingga kini hasil karya mereka masih bisa dijumpai. Antara lain gedung Landmark, bekas toko buku Van Dorp, gedung bioskop Majestic (AACC red). Denis Building (Bank Jabar) serta beberapa bangunan lainnya.Tidak salah jalan Braga sering di sebut sebagai perpustakaan terbuka dunia arsitektur. Karena banyak menyimpan gaya arsitektur seperti klasik-romantik, art deco, Indo-Europeanen, neo klasik, gaya campuran sampai gaya modern.Sejak tahun 1893 jalan Braga mulai menjadi daerah pertokoan yang paling terkemuka di Hindia Belanda. Hingga menyandang predikat Parisj Van Java.clip_image010Mulai dari toko kain berkualitas impor di toko Onderling Belang (Sarinah). Membetulkan jam tangan merk-merk terkenal seperti Rolex, Titoni, Mido, dan Omega di toko Horlogerie Stocker dan PE Huber, atau memandangi barang pameran di etalase diistilahkan dulu sebagai ‘Bragaderen’.Toko barang-barang dari Amerika dan Eropa seperti mobil Chrysler, De Soto, Plymouth, Renault, Fargo dan merk lainnya di sediakan oleh perusahaan Fuch & Rens distributor tunggal ke seluruh Indonesia.Tidak hanya itu, para Shopholic pun disediakan tempat bersantap di restoran Firma Kuyi en Vesteeg, Maison Boin, Het Snoephius dan Mainson Bogerijn (Braga Permai).Kini Braga di bangkitkan kembali. Dengan di bangunannya Braga City Walk. Open plaza, Apartment, Hotel serta berbagai fasilitas komersial lainnya.

















Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BRAGA"

Posting Komentar

hallo agan, silahkan berkometar secara bijak dan santun